17 April 2013

Banyak cinta di Perjalanan Menyusui #KakakRaya


Ini bakal jadi cerita yang super panjang setelah cerita melahirkan dulu (bahkan mungkin lebih panjang), ada pesannya sebelum baca ini..klo yg ngga setuju monggo, tp semoga bermanfaat bagi yang memiliki pengalaman sama dengan gw. Fuihh..memang harus menghela nafas bgt gw nulis cerita ini, untungnya fase2 tidak bisa berdamai dengan keadaan itu udah lewat dan skr bisa dengan senyum ceritanya. Apalagi kalau bukan soal perjalanan menyusui kakak raya.

Tentang latar belakang
Buat yg dari melahirkan langsung bs menyusui dengan mudah atau asinya banyak, pasti bersyukur banget. Inti dari cerita ini adalah gw ngga jadi memberikan kakak raya asi esklusif, sedih? Banget! Tapi itu beneran udah lewat skr. Hal ini terjadi karena saat kontrol 2 minggu setelah lahir, di mana seharusnya berat badan kakak wajib balik ke berat lahirnya, ini tidak L boro2 balik ke berat lahir, bahkan beratnya saat itu turun hingga 16%. Padahal saat baru lahir pun di mana biasanya berat bayi di 7 hari pertama akan turun pun max hanya boleh turun 10%, nah ini udah 2 minggu?

Seperti artikel di sini, bahwa tanda kecukupan ASI ada 2 salah satunya adalah berat badan bayi. Ya dan kenyataannya asi gw memang tidak cukup dan sebanyak apapun artikel atau orang yg berbicara kalau asi pasti cukup, kenyataannya adalah tidak semua orang diberikan Allah asi yang cukup. Waktu gw kontrol ke DSA itu yang mana DSA gw jg sangat PRO ASI mengatakan bahwa keadaan ini harus segera diselesaikan dengan 2 pilihan dengan tambahan suplementasi yaitu susu formula atau mencari donor asi. Lalu apa pilihan gw dan mas nuke? Kami pilih suplementasi buat kakak J  Kita berdua memilih ini krn banyak alasan dan terutama masalah keyakinan dan kami yakin setiap orang punya pilihan masing2. Waktu dikasi tau hal ini, gw drop.. Tp ada satu orang yang sangat gw percaya akan kemampuannya sebagai dokter (u know whoJ) bahwa suplementasi yaitu susu formula juga bukan racun koq danbisa jadi jalan terakhir jika ada masalah, dan satu hal pula yang gw dan mas nuke yakini adalah kita harus mengambil jalan ini bukan karena tidak sayang dengan kakak, tp justu karena SANGAT SAYANG dengan kakak. 

Tentang usaha
Jangan tanya apa saja yang sudah gw lakukan untuk bisa memberikan yang terbaik untuk kakak soal ASI ini, mulai dari belajar a-z seperti kelas yang pernah gw ikuti termasuk membaca buku dan artikel2 terkait, mengajukan cuti tambahan 3 bulan unpaid leave ke kantor, menyiapkan freezer dan botol2 untuk menyimpan asip, sampai rutin kontrol ke konselor laktasi sebelum dan hingga setelah melahirkan. 2 minggu awal setelah melahirkan memang sangat berat buat gw pribadi, terutama yang seperti gw ceritain di sini gw di rumah mengurus kakak tanpa didampingi nyokap gw/nuke dan BS pun belum ada. Tetapi itupun bisa gw lewati sambil menahan sakit akibat lecet yang luar biasa di kedua PD sampai2 konselor laktasi yang gw datangi berkata”koq bs sampai gini sih bu?” -__- gw tau klo pemberiaan asi kembali pd mindset, dan percaya koq gw selama 2 minggu itu gw yakin 100% asi gw pasti cukup buat kakak. Lagi2 semuanya langsung terbantahkan di pemeriksaan 2 minggu itu.

Tentang Solusi
Jd apa yang gw harus lakukan menurut DSA kk itu?gw tetap harus menyusui seperti biasa, max 3 jam sekali. Setelah sesi menyusui dengan gw, kakak baru ditambah suplementasi sebanyak 30ml. jd bukan seenaknya gw kasi, tp sesuai dosis tertentu. Setelah dikasi suplementasi tersebut, gw lanjut wajib pumping untuk mendukung produksi asi gw supaya lebih banyak.pilihan suplementasi pun disarankan yg hypoallergic, walaupun kakak tidak ada alergi tp tetap minum ini karena katanya rasanya tidak enak sehingga kakak tetap mau meminum asi. Rutinitas ini gw lakukan terus menerus setiap harinya hingga berat badan kakak kembali normal dalam ukuran grow chartnya dan tercapai di usia 2,5 bulan. Oleh karena itu pula seminggu sekali gw ke rumah sakit untuk kontrol berat badannya kakak. alhamdulillah. sampai skr pun kakak tidak berhenti menyusu ke gw dan perlahan bertahap mengurangi dosis suplementasi.

Tentang pertanyaan2 pribadi
Dalam perjalanan ini ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepala gw dan mas nuke. Yang paling pertama banget adalah kenapa jarang sekali (bahkan kami hanya menemukan satu artikel terkait) artikel atau diskusi yang membahas mengenai masalah seperti yang gw hadapi ini. Maksud gw adalah, gw dapat dengan mudah menemukan berbagai bacaan apa saja kebaikan asi dll sampai tanda kecukupan asi. Tetapi mengapa tidak ada yang menulis soal solusi masalah gw ini, lalu bagaimana jika kenyataan tidak cukup hingga mengalami masalah berat badan? Baru di edisi ayah bunda kmr gw menemukan tulisan ini dan memang hanya ini yang kami temukan (diluar solusi yang diberikan dokter kami).



Lalu berlanjut ke pertanyaan berikutnya, adalah mengapa ada beberapa konselor laktasi (tidak semua yaa) yang dengan mudah mengatakan anak kita tongue tie?ini murni pendapat pribadi gw ya, dari yg gw alami kmr memang gw di awal posisi latch on sempet salah lalu dibetulkan, lalu seminggu setelah kk lahir sempet konsultasi (saat itu berat badan kk terus menurun tp gw tetep yakin asi gw cukup sampai di 2 minggu itu) lalu dikatakan bahwa itu salah satu tanda bayi gw tongue tie sehingga mengurangi asi yang diisap bayi. Iya, gw setuju ada beberapa bayi yang mengalami hal ini dan gw tidak menutup mata. Tp gw sampai kontrol ke 3 DSA, tiga2nya tidak mengatakan kakak tongue tie, knp konselor laktasi bs bilang bayi gw tongue tie? lagi2 kadang gw pengen bilang bawah memang berat badan kk turun krn asi gw tidak cukup. Satu lagi hal yg gw ambil pelajarannya dr dokter yang gw percaya adalah bahwa sangat wajar sekali jika diawal proses menyusui ada ibu2 yang sampai lecet2 walapun posisi latch on sudah benar, krn si ibu sedang belajar latch on bayipun juga sedang belajar sehingga tidak ada yang langsung bisa. Pasti banyak setuju deh ibu2, gw pun membuktikan sendiri..setelah sebulan usia kakak, gw tidak sedikitpun merasa sakit saat menyusui bahkan kakak sangat pintar sekali dalam mengisap! J jadi buat ibu2 yang akan atau baru melahirkan, benar2 dilihat dulu apakah anaknya benar2 tongue tie atau tidak sebelum di-inisisi ya.

Tentang Pelajaran yang diambil
Dari kejadian ini gw amat sangat bersyukur krn banyak banget dapat pelajaran, di awal2 menjadi orang tua. Pertama, sebaik apapun kita mempersiapkan sesuatu tetap Allah yang menentukan hasilnya dan kita tetap harus bs tawakal. Gw pun tidak menyesal sedikitpun dengan segala usaha dan persiapan yang sudah gw lakukan. Kedua, gw belajar lagi bersyukur. Kalau kata mas nuke, kita udah dikasi keluarga yang baik, kerjaannya yang mencukupi, badan yang sehat, anak yang lucu..masa sekarang dikasi satu kekurangan kita protes? J belum lagi setelah kejadian gw lihat ada yg keadaan bahkan lebih parah dr gw, asi-nya tidak keluar sama sekali. Jd kenapa harus melihat ke atas terus?  Ketiga, gw belajar untuk bisa jadi orang tua yang bahagia krn klo kitanya happy pasti anak kita juga bahagia kan? Mengutip kata Ratih Ibrahim di majalah ayah bunda, “mulailah menyadari bahwa kita bukan sosok orang tua yang sempurna,saat kita bisa berdamai dengan keterbatasan yang kita miliki maka kita akan lebih ikhlas dan bahagia sebagai orang tua”. Keempat gw juga belajar untuk sangat mengurangi ‘kepo’ dengan kehidupan orang. Apalagi buat cewe, pasti mudah banget kan untuk nanya kapan married?asi banyak ngga?hahaha gw juga dulu pun gitu koq. Gw percaya sih, segimanapun niat kita untuk perhatian, tidak semua orang merasa nyaman untuk terus2an ditanya hal yang sama dan mungkins ensitif untuk dirinya (di mana kita belum tentu tau soal ini). Jadi sebisa mungkin jika ingin bertanya cukup sekali waktu, lebih baik lagi jika bertanya kalau orang tersebut sahabat kita banget J

Tentang best moments
Tapi betapa beruntungnya gw (yes,sangat beruntung), selain pertanyaan2 dan pelajaran2 gw juga dapet momen2 yang mungkin ngga bakal gw lupain. Terutama soal hubungan gw dan mas nuke. Mas nuke yang selama gw hamil ikut belajar mulai dr baca buku ID Ayah asi sampai ikutan kelas bareng gw padahal dia bukan tipe yg suka baca dan ikut kelas pun sangat mendukung banget di perjalanan menyusui ini. Di saat awal gw drop setelah tau hrs tambah suplementasi, gw minta maaf ke dia krn udah ngajak ini itu tetapi skr malah ngga bisa kasi ASIX.Tp apa coba jwb dia? Dia bilang dia justru makasih banget udah diajak kelas dll krn kalau ngga gitu dia ga akan pernah tau baiknya ASI dll, tp dia bilang justru jangan gara2 kita mau jadi ortu yang ideal kita malah mengorbankan yang terbaik untuk anak.selain itu perjalanan kita sebagai orang tua masih panjaaaang, ngga sampai di sini aja. Dia bilang, gw dan dia pun pasyi sama seperti orang tua lainnya ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan usaha sebisa mungkin. Lalu setelah 40 hari gw sudah solat kembali dan gw solat jamaah sama dia, setelah itu berdoa bersama gw kaget pas dia menyelipkan satu doa buat gw “ya Allah, lancarkan asi dari kedua PD istriku” :’) sampai sebegitunya dia dukung gw J  terakhir, krn ini gw mendapatkan teman2 yang suportif dan tidak menghakimi.terima kasih semuanya *peluk satu2*.

Tentang cinta
dan setelah cerita yang amat sangat panjang, cerita ini merupakan bentuk cinta gw buat semua ibu2 yang mungkin masalahnya sama ky gw. Yg lebih penting lg, gw dan mas nuke lakukan ini semua dengan cinta hanya untuk kakak raya J ngga pernah bosen untuk ngomong ke kakak klo gw sayang kakak dan ngga pernah putus asa ngomong ke diri sendiri semangat ninta pasti bisa memberikan asi terus untuk kakak raya! J

16 comments:

  1. Kita boleh banyak rencana tapi Allah juga yg nentukan yah mba.. Ak juga gt sampe bela2in pindah RS,mau Normal,IMD,roomingin.eh kenyataannya semuanya ga dapet.yang penting anak kita sehat ya.Allah udh ngasih yg terbaik. ;* ;* *kecup buat raya*

    ReplyDelete
  2. Kita bisa berusaha dan berencana tapi tetep aja Allah yg menentukan ya mba..ak jg gt sampe bela2in pindah RS karna pengin lahiran normal,IMF,roomingin.tapi semuanya malah gagal.tapi yg penting anak kita sehat dan Allah pasti tau dan kasih yg terbaik untuk kita kok..;* *kecups buat raya*

    ReplyDelete
  3. Halo Mbak...ngga sengaja saya nemu blog ini & isinya persis pengalaman waktu kasih ASI ke anak pertama dulu. Akhirnyaa, setelah banyak terima kritikan dari kiri kanan dibilang bukan ibu yang baik lah ngga bisa kasih ASI, dibilang semangatnya lemah ngga mau usaha kasih ASI, dsb...bikin miris hati. Dalam hati saya cuma bilang andai mereka2 itu ngerasain sulitnya kasih ASI..

    Habis lahiran ASI saya keluar sedikit sekali, setetes dua tetes sementara pulang dari RS anak agak kuning, harus dikejar kasih ASI yang banyak. Udah usaha di pompa, klinik laktasi teteepp aja ASI paling banyak 10ml...ditambah minggu kedua lahiran dikirim kerjaan plus laptop dari kantor, harus selesai kerjaan dalam waktu seminggu...gimana ngga stress, pemulihan pasca lahiran aja blum pulih banget, lagi belajar kasih ASI ditambah dikejar deadline kerjaan...yg ada ngerjain deadline sambil nangis2 & saya jadi kena baby blues parah...ujung2nya ASI jadi stop..

    Sedihnyaa ngga bisa dibayangin...dan selama cuti 3 bulan itu hampir tiap hari dari kantor krang kring kerjaan...baru mau usaha ASI lagi eh lagi2 dapet kiriman kerjaan di laptop. Apalagi waktu lahiran usia saya udah menjelang 40th...jadi emang lebih extra usaha untuk produksi ASI nya (dalam kondisi normal tanpa gangguan stress kerjaan) di banding mereka yang berusia di bawah 35th. Dan hampir semua orang menyalahkan aku yang tidak bisa ngasih ASI & bilang 'ngga ada ibu yang ngga bisa menghasilkan ASI'...alhamdulillah dukungan suami saat itu luar biasa. Dan akhirnya saya nemu artikel yang membahas kesulitan pemberian ASI. Belakangan juga ada beberapa rekan kantor yang cerita pernah mengalami kendala sama, yaitu ASI hanya terbatas cuma 2 bln stop, padahal mereka berusia di bawah 30th....Jadi saya simpulkan, kita memang tetap berusaha keras bahkan sangat keras tapi tetep Allah yang menentukan...yang penting anak sehat, itu sudah cukup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nemu teman2 senasib ini. Mba hebat lo..dikejar2 pkerjaan kantor sampai seperti itu. Kantor saya jg..bedanya stelag cuti,dikantor saya sperti tdk dpt ksempatan pumping. Dan tdk ada support dr atasan. Krn menyita waktu menurut mereka. Perjuangan panjang untuk dpt menyusui. Alhamdulillahnya usia anak saya 1 tahun sekarang dan msh asi. Walaupun waktu usia 3 minggu pernah minum sufor dng takaran 30ml stelah minum asi karena tangue tie dan payudara saya jd terkena mastitis. Sampai skrng pun payudara yg mastitis produksinya terbatas. Dan selalu kejar2an stok asi krn produksi yg kiri (terkena mastitis) sangat terbatas. Bersyukur..ininya kita semua sbg ibu hanya bs berusaha memberikan yg terbaik untuk anak kita. Apa kata orang diluar sana,biarkan saja..toh kita yg menjalani. Tuhan jg yg memutuskan yg terbaik untuk hambanya.

      Delete
  4. terima kasih yaa semua buat supportnya :")

    ReplyDelete
  5. ninta... tenang.. pake sufor itu gak dosa, yang dosa itu klo bikin anak kelaparan.. semangat! u're not alone..been thereee *pukul2 dada sendiri* :*

    ReplyDelete
  6. angga rosantiani ekaSeptember 24, 2015 at 7:04 PM

    Artikel yang bagus mbak...setelah bnyak bgt artikel yg mendiskriminasikan ibu yg g bs kasih ASI,stlh baca ini jd bs semangat lagi..mungkin kita emang gak bisa kasih ASI yg emang baik banget buat si adek,tp plg g skrg kita bs kasih sesuatu yg baik banget buat si adek selain asi...
    Makasih banget ya mbak...

    ReplyDelete
  7. aku merasakan hal yang sama mba ninta....

    ReplyDelete
  8. Mba.. Artikel ini dukungan banget buat saya.. Makasih bangett..

    ReplyDelete
  9. Halo mbak. Thanks for sharing ya. Saya jg sama ketika anak pertama dulu. Asi cuma keluar sedikit. Saat lahir si abang hipoglikemi, harus cepet dapet asupan supaya gak kolaps. Asi belum kluar, jadilah dapet sufor sudah sejak di RS. saya waktu itu kurang ilmu juga, jadi masih kurang usaha dibanding mbak ninta. Hanya saja, cibiran dr orang2 itulah yg ga bs saya trima. Saya dihina dina di sosmed yg smp skrg saya ga akan pernah lupa. Yg satu tmn sendiri yg dulunya akrab tp skrg saya sudah tidak respek lg (padahal dia seorang dokter), yg satu lg tmn laki2 yg ketika itu dia belum menikah dan sempat saya sumpahin berkali2 dlm hati bahwa suatu saat kalo dia punya anak, saya berharap asi istrinya mampet. Jahat ya? Saya terlalu sakit hati kala itu.
    Pada akhirny ibu saya menguatkan dg kata2 "ya sudah, ga bisa kasih asi bukan berarti anakmu ndak bisa pinter, bukan berarti km bukan ibu yg baik"
    Pengalaman pribadi beliau, kakak saya hanya menerima asi selama 1 bln. Sampai sekarang justru dia yg tercatat memiliki kecerdasan/IQ superior :)
    Semangat ya mba, tetep berusaha kasih yg terbaik buat anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak sengaja nemu artikel ini. Eh...lihat komennya mbak rosi. Aq anak pertama ASI cuma beberapa hari malah mbak...ASI cuma keluar setetes dua tetes. Dipaksa netek anaknya malah nangis kejer sampe biru. Akhirnya terpaksa kasih sufor.
      Emang ya yg g nguatin itu cibiran dr org2 sekitar. Terutama dari keluarga sendiri. Sampai waktu itu aq baby blues. Untung ada suami yg mensupport, gpp pake sufor yg penting anak sehat.
      Sakit hati tu waktu kakak ipar bilang kalau g bisa kasih ASI bakal ditagih diakhirat, trs dengan bangganya cerita sama mertua ttg limpahan ASI yg mereka dapat, sempet ghibah ma dukun pijet bayi, aq dikatain kering, g subur (sambil mewek nulisnya).
      Satu lagi kakak ipar, laki2 bahkan pernah terang2an ngatain anakq itu anak sapi. Spontan aq jawab yg penting nantinya jd anak sholeh. Langsung diam g ada yg berani ngomong.
      Sejak saat itu aq berjanji bahwa anakq akan lebih baik dr anak2 mereka, anakq bisa membahagiakan org tuanya.
      Bisa ngasih ASI bukan lantas anaknya otomatis jd anak sholeh/sholehah dan piter kn?
      Sakiiiitttt banget....masih belum pulih pasca melahirkan bukannya dibantuin malah dicibir. Waktu itu aq masih sangat kurang pengetahuan. Dapet bidan yg g kompeten pula. Anak lahir g IMD, langsung kasih sufor krn ASI blm keluar. Klo inget semua sakiiittt banget.
      Tp untungnya semua sudah berlalu. Senyuuuuummmm :)

      Delete
  10. Hi mbaa.. Aku baru menemukan blog nya dan langsung berlinangan air mata bacanya, karena aku mengalami hal yg sm persis kyk mba arnita alami dan reaksi suamiku jg ttp baik banget dg kegagalan aku kasih ASIX ke anaknya.

    Sekarang anak ku udh 18bulan, tp kadang kalo inget saat2 gagal kasih ASIX ttp aja mewex.
    Hahahahah.. Cemen yah?! ��

    ReplyDelete
  11. Salam kenal mbak..saya baru nemu blog nya dan langsung berderai air mata..kadang cibiran dari orang2 yang bikin semakin depresi. Mana mereka tahu semua usaha yang sudah kita lakukan. Untungnya suami dan keluarga sangat mendukung.

    Alhamdulillah baby sekarang sudah 10 bulan, sehat, aktif walaupun masih pake suplemen sufor sambil ASI juga. Saya yakin setiap ibu pasti ingin memberi yang terbaik buat anaknya.

    ReplyDelete
  12. Thanks sharingnya....ini crita sy bgt juga....biar dikataen sy bukan ibu yg baik atau bagaimana...toh mrka tdk th perjuangan sy yg ingin memberikan sgala hal yg terbaik utk anak sy....yg penting anak sy sehat itu sudah anugrah Allah yg paling indah. ..Alhamdulillah sj....

    ReplyDelete
  13. Hai mbak baru nemu artikel ini.huaaa ceritanya sama kayak aku hampir sebulanan aku keukeh kasih ASI tapi berat badan anakku malah turun hampir setengah kilo padahal nenennya gak berhenti berhenti,sudah keliling ke beberapa dsa ke klinik laktasi malah ada yg bilang anakku tongue tie dan sudah dijadwalkan untuk operasi, ternyata masalahnya memang pada ASI yg seret mungkin jg waktu itu sy sempet mengalami babyblues.Jadi berpengaruh pada ASI. Setelah diberi susu formula berangsur angsur BB anak saya normal.kadang kalau ingat tidak bisa memberikn yg terbaik buat anak sedih. Tapi sy pikir selama anak saya tumbuh sehat pintar itu sudah merupakan kebahagiaan bagi sy.Alhamdulillah sampai sekarang anak sy jg masih ASI+sufor dan sy mash pompa di kantor meski tidak memiliki stock

    ReplyDelete
  14. Hii mbak saya jg ngalami hal yg sama ASI blm kluar Dan seminggu setelah lairan anak saya kuning jd hrs balik RS lg disinar selama seminggu drop pasti mampet sudah tentu
    Banyaaaaak bgt komentar negatif dr tetangga akhirnya ngungsi ikut suami (slm ini kami LDR) ternyata di tmpt suami saya jg dpt komen yg g enak banyak jg saran2 (biar ASI lancar) yg saya ikuti mulai dr jamu yg rasanya macem2 (mulai dr manis sampe puahitttt),makan sayur2an hijau dan pare, sampai harus mandi diguyur kepalanya sebelum subuh sampe mata merah dan kedinginan. Hasilnya tetep saja mampet. Sedih?pasti nangis rasanya tiap hr. Lambat laun saya membuka pikiran bahwa ASI bukan satu2nya kunci kesuksesan jd ibu.ada bnyk hal salah satunya menjadi ibu yg bahagia. Alhamdulillah anak saya sehat

    ReplyDelete